Laman

Sabtu, 28 Juli 2012

Golongan orang-orang yang beriman


Termasukkah anda dalam tanda-tanda orang beriman berikut??

Setiap malam semenjak pintu gerbang bulan Ramadhan terbuka selalu berhiaskan akan nada-nada, senandung dan nyanyian suci ayat-ayat Allah. Seusai maghrib, setelah Tarawih, ketika selesai Shalat Subhu  lingkungan kita bagaikan diselimuti jubah suci gumpalan ayat-ayat, asma Allah, nama Allah, shalawat rasul dan segala macam hal yang berbau memuji  Allah dan menyatakn kebesaranNya. Allahu Akbar.
 
Seiring dengan keadaan ini, apa perubahan yang telah kita rasakan selama datangnya bulan suci yang penuh seruan dan pujian ini, sejauh mana getaran hati kita, sejauh mana kepercayaan kita membara, sejauh mana kita menyadari bentangan alam yang begitu megah ini dan sejauh mana kita menyadari sang pencipta keadaan ini.
 
Untuk itu disini aku bermaksud menyampaikan sebuah ayat yang aku sambungkan atas indra dengarku tadi malam ketika akan Shalat Tarawih, sang penceramah yang merupakan seorang pengurus masjid itu memberanikan diri membacakan sebuah ayat yang sangat bermakna untuk kita cerna dan sadari. Ia menyampaikan surah Al-Anfal ayat 2-4, yakni tentang tanda-tanda orang yang beriman, bunyinya sebagai berikut:



Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia."(QS.Al Anfal 2-4)

Dari Ayat tersebut telah jelas lah bahwa beberapa tanda-tanda orang yang benar-benar beriman kepada Allah adalah:
Bila disebut nama Allah gemetarlah Hatinya
Apabila Dibacakan Ayat-ayat Allah bertambahlah Imannya
Mereka selalu bertawakal Kepada Allah
Mendirikan Shalat
Menafkahkan (berinfaq, shadaqoh)

Sebagai bahan renungan mari kita koreksi kembali hati kita, sudah kah diri kita termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut,  sungguh akan merugi jika kita masih belum menyadari sesungguhnya detak hati kita pada bulan yang penuh berkah ini, pernahkah kita merasakan getaran hati ketika ayat-ayat Allah berkumandang, pernahkan getaran hati kita bergejolak saat nama Allahu Akbar dikumandangkan.  

Semoga bermanfaat teman-teman, tetap semangat dan bergembiralah dalam melakukan amalan yang begitu mulia ini. Selamat menikmati hari jum'at yang penuh berkah..Wink


Sabtu, 21 Juli 2012

Jalan menuju kebahagiaan


Folder Kebahagiaan

Kebahagiaan..

Siapa ya yang tak mau mendapatkan kebahagiaan di dunia ini?

Kebahagiaan merupakan hasil dari kerja keras suatu usaha yang menghabiskan tenaga dan pikiran atau salah satu diantaranya. Usaha untuk mencapai sesuatu, menghasilkan sesuatu, menciptakan sesuatu atau bahkan menemukan hal-hal baru yang bermanfaat bagi orang banyak.

 

Hari ini aku ingin berbagi kebahagiaan pada teman-teman semua dan dunia, kebahagiaan yang mungkin tak terlalu bernilai dari pandangan mata, akan tetapi bagiku kebahagiaan ini adalah kebahagiaan terbesar pertama dari semua usaha yang telah dilakukan oleh kedua orang tua untuk anaknya,

Tak terlalu asing didengar dan tak terlalu asing untuk ditebar

Tak telalu megah untuk dilihat dan tak terlalu indah untuk dihikmat

Orang tuaku hanyalah sepasang petani kopi, tapi mereka berhasil mewujudkan cita-citauntuk kami anaknya, terima kasih Ayah dan Ibu 


Menjadikan anak seorang ‘sarjana’ mungkin merupakan cita-cita semua orang tua yang ada di muka bumi ini, cita-cita lahir dan batin yang akan menjadi tolak ukur dalam perjuangan membahagiakan anak-anaknya. Selayaknya orang yang mengejar cita-cita maka akan menempuh berbagai upaya untuk mewujudkan hasilnya.
Banyak fenomena-fenomena masa kini yang terjadi dan cukup trendi menerpa langkah-langkah orang tua untuk mewujudkan cita-citanya, semisal kekecewaan atas anaknya yang tanpa mau menyadari bahwa ia telah menginjak-injak cita-cita mulia orang tuanya, kadang mereka lakukan dengan menikah muda, masuk penjara hingga terjerumus ke dunia narkoba. Akan tetapi, tak jarang juga cita-cita itu musnah akibat kerasnya kehidupan dunia, susah mencari biaya, susah mencari nafkah, susah mencari tempat kuliah hingga susah meladeni kehendak yang berkuasa, menjadi latar belakang pupusnya cita-cita sang maestro keluarga.

Semua itu adalah perjuangan, perjuangan tanpa batas yang akan selalu dilakukan oleh orang tua untuk anaknya. Pastinya, kebahagiaan akan menerpa mereka yang berhasil mencapai keinginan itu dan kesedihan akan menghinggapi hati orang tua yang belum berhasil, belum sempat atau bahkan belum beruntung untuk mewujudkan cita-cita mulianya.

Tepat pada tanggal 17 Juli 2012 kemarin, sejarah terbaru terukir dalam keluargaku. Terbaru tapi bukan merupakan hal baru, yaitu tentang kerberhasilan sang maestro keluargaku mewujudkan cita-citanya untuk menjadikan anaknya seorang ‘sarjana’. Ialah seorang kakakku yang baru mendapatkan gelar ‘Sarjana Pendidikan (S.Pd)’.

Tertancap jelas diraut wajah sang ibu dan ayahku rasa kebahagiaan yang tak terhingga, tak ada raut sendu, tak ada raut pilu, dan raut-raut wajah tak enak lainnya. Hanya saja nenekku yang begitu bahagia hingga terharu melihat keberhasilan yang telah dicapai kakakku dan kedua orang tuaku, dibalik senyum pipi keriputnya mengalir tetesan-tetesan bening kebahagiaan yang tak bisa diterjemahkan oleh kata-kata. Aku tahu bahwa nenekku merasakan kebahagiaan yang lebih tinggi dari kedua orang tuaku karena cita-citanya telah tersambung atas keberhasilan cucunya.


Kata Ayahku “Jika Tubuhku Sudah Tak Mampu Berdiri, Maka Aku Akan Mengaiskan Tulangku Demi Menyekolahkan Kalian” & Kata Ibuku
Aku Lebih Senang Mengangkat  Satu Keranjang Kopi Daripada Pergi Kepesta Penikahan


Aku terlahir dalam sebuah keluarga yang biasa-biasa saja kadang keterbiasaan itu seringkali menjadi kekurangan. Tak jarang hidup kami mengalami tantangan-tantangan finansial yang mendesak.
Aku dan satu orang kakakku adalah rentenir yang sangat kejam pada orang tuaku, setiap 6 bulan sekali kami selalu memeras keuangan mereka, itu karena kami disuruh mereka untuk Kuliah. Sementara kedua orang tuaku hanyalah sepasang petani Kopi yang tak menentu pendapatannya. Dilihat dari statusnya, mustahil memang mereka mampu menguliahkan aku dan kakakku, aku kuliah di sebuah institusi kesehatan swasta sementara kakak ku kuliah di institusi Perguruan Tinggi Negeri, ia mengambil fakultas Keguruan. Di tinjau dari status kami berdua aku rasa sudah sedikit mengerutkan kening jika di ajak membayangkan bagaimana perjalanan kehidupan kami saat kuliah.